Minggu, 20 September 2020

jamaah masjid nurusyafaah turing ke bendungan saguling

 Pada tanggal 20 September 2020, lebih dari 30 jamaah masjid Nurussyafaah mengadakan turing ke bendungan Saguling. Waduk Saguling  merupakan salah satu dari tiga waduk yang membendung aliran sungai Citarum yang merupakan sungai terbesar di Jawa Barat .  Luas daerah genangan waduk ini sekitar 5.600 hektare dengan volume tampungan awal 875 juta m3 air. 

Berangkat dari tituk awal yaitu Perumahan BumiMas Bayubud Cianjur, sekitar jam 7 pagi. Pembangunan Waduk Saguling berawal dari gagasan seorang insinyur berkebangsaan Belanda, Prof. Ir. W.J. van Blommestein untuk mengintegrasikan seluruh pengairan di Jawa Barat. Ia mulai mengumpulkan data-data pendukung di aliran Sungai Citarum pada dekade 1920-an. Hingga suatu ketika pada tahun 1948 muncul makalahnya tentang rencana pembangunan Waduk di aliran Sungai Citarum. Namun bukan Waduk Saguling yang lebih dahulu direncanakan dibangun, melainkan Waduk Jatiluhur karena dianggap paling mendesak pemanfaatannya. Barulah setelahnya ia merencanakan pembangunan waduk tambahan, salah satunya Waduk Saguling yang awalnya akan diberi nama Waduk Tarum.

Pembangunan Waduk Saguling dimulai dengan mulainya konstruksi bendungan di Desa Saguling, Kecamatan Saguling pada tahun 1980-1986. Konsultan desain bendungannya dari New JEC (Jepang) serta PT. Indra Karya sedangkan kontraktor pembangunannya oleh Dummer Travaux Publics (Prancis) dan PT. Raya Contractor. Biaya pembangunan waduk ini menghabiskan dana 662.968.000 Dollar AS termasuk biaya pembebasan lahan di 49 desa yang didominasi lahan pertanian[2]. Terdapat sekitar 12.00 Kepala Keluarga (KK) yang harus pindah dari desanya, sebagian ada pula yang transmigras

Berikut foto foto selama perjalanan dan lokasi yang di tuju :
















































0 komentar:

Posting Komentar