MUHASABAH
KETAATAN DAN PENGABDIAN SECARA TOTALITAS
Saudaraku,
Ibadah qurban seperti juga ibadah lainnya dalam Islam merupakan bentuk pengabdian kepada Allah Azza wa Jalla yang merupakan manifestasi dari iman. Tujuannya adalah untuk mencapai derajat takwa...
Ibadah qurban merupakan perwujudan rasa syukur atas nikmat Allah Azza wa Jalla yang tak terhingga jumlahnya yang telah kita terima. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla,
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗفَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
"Sesungguhnya kami Telah memberikan kepada-mu nikmat yang banyak. Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah."
(QS. Al Kautsar: 1-2)
Dalam firman-Nya Allah Azza wa Jalla menyatakan akan menambah nikmat-Nya bagi mereka yang bersyukur dan sebaliknya siapa yang mendustakan maka bersiap-siaplah dengan azab Allah Azza wa Jalla yang amat pedih. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat.”
(QS. Ibrahim: 7)
Saudaraku,
Melalui ibadah qurban kita mengenang kembali dan mencoba meneladani perjuangan Nabi Ibrahim 'alaihi sallam dan putranya Ismail. Rangkaian peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim 'alaihi sallam yang puncaknya dirayakan sebagai hari raya Idul Adha harus mampu mengingatkan kita bahwa yang dikurbankan bukanlah manusianya, tetapi yang dikurbankan adalah sifat-sifat kebinatangan ( khayawaniyah) yang ada dalam diri manusia seperti rakus, ambisi yang tidak terkendali, dzalim, menindas, menyerang, dan tidak mengenal hukum atau norma apapun. Sifat-sifat yang demikian itulah yang harus dibunuh, ditiadakan, dan dijadikan kurban demi mencapai qurban (kedekatan) diri kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla mengingatkan dalam firman-Nya,
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
"Daging hewan kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al Hajj: 37)
Dengan demikian tidaklah ada kaitan antara daging dan darah dengan qurban (kedekatan) kepada Allah Azza wa Jalla, kalaupun ada yakni dalam rangka meringankan beban mereka yang membutuhkan, membela orang yang lemah dan meningkatkan derajat kemanusiaan. Dari kisah keteladanan Nabi Ibrahim 'alaihi sallam, kita juga dapat mengambil pelajaran bahwa harus siap mengorbankan segala sesuatu yang paling kita cintai sekalipun, guna mentaati perintah Allah Azza wa Jalla...
Saudaraku,
Allah Azza wa Jalla berfirman,
فَاتَّقُوااللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفَقُوْا خَيْرًا لاَنْفُسِِكُمْ وَمَن
يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَاُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
"Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesangupanmu, dengar dan taatlah, nafkahkanlah yang baik untuk dirimu, dan siapa yang dipelihara dirinya dari sifat kikir, merekalah orang-orang yang beruntung."
(QS. At Taghabun: 16)
Dalam kaitan dengan perjuangan, kita sangat dituntut memiliki kemauan dan kesanggupan yang luar biasa untuk berqurban dengan harta yang kita miliki, karena memang perjuangan itu tidak mungkin bisa berhasil dengan baik tanpa adanya pengorbanan. Namun yang paling penting bukan besar dan kecilnya bentuk pengorbanan kita itu, tetapi berkurbanlah yang sesuai dengan tingkat kemampuan maksimal kita yang dilandasi ketaqwaan keikhlasan yang tinggi. Inilah pula yang menjadikan penyebab mengapa orang yang memiliki kemampuan dengan harta tapi tidak mau berqurban dengan menyembelih hewan qurban diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan tidak boleh mendekati tempat shalat, yaitu masjid. Sebagaimana sabda beliau,
مَنْ كَاَنَتْ لَهُ سَعَةً وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلانَا. ( رَوَاهُ اَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ)
"Barangsiapa yag telah mempuyai kemampuan berqurban, dan dia tidak mau melaksanakannya, maka janganlah dia menghampiri tempat shalat kami."
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Qurban merupakan bentuk ketaatan totalitas dalam ketaqwaan kepada aturan Allah Azza wa Jalla, sebagaimana yang dipraktikkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihi sallam. Karena inti dari keislaman kita adalah ketundukan secara totalitas kepada Allah Azza wa Jalla. Apapun yang datang dari Allah Azza wa Jalla adalah sebuah kebenaran mutlak. Seluruh perintah Allah Azza wa Jalla pasti akan mendatangkan hikmah bagi manusia dan apapun yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla pastilah perkara tersebut sangat berbahaya bagi manusia. Qurban merupakan sarana berbagi dengan kaum dhuafa, dan bentuk ungkapan cinta kepada mereka. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
يَا عَائِشَة أحبي الْمَسَاكِين وقربيهم فَإِن الله يقربك يَوْم الْقِيَامَة
“Wahai Aisyah cintailah orang orang miskin dan dekatkan dirimu dengan mereka maka niscaya Allah dekat denganmu di hari kiamat.”
(HR. Tirmizi)
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa mentaati perintah dan menjauhi larangan dari Allah Azza wa Jalla secara totalitas untuk meraih ridha-Nya...
Aamiin Ya Rabb.
Wallahua'lam bishawab







0 komentar:
Posting Komentar