Kamis, 13 Juni 2024

PENYESALAN AKAN MEMBUKA PINTU TAUBAT oleh H GUFRON ALI

 



PENYESALAN AKAN MEMBUKA PINTU TAUBAT

Saudaraku,
Hidup di dunia ini ibarat masa menanam, dan hidup di akhirat adalah masa menuai. Kalau tidak maksimal menanam amal kebaikan di dunia, bagaimana mungkin bisa menuai kebahagiaan di akhirat? Allah Azza wa Jalla berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُون

“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian dengan sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?”

(QS. Al-Mu’minun: 115)

Saudaraku,
Penyesalan akan membuka pintu taubat, sekalipun datangnya di belakang, dan tidak mungkin ada di depan. Karena penyesalan datang apabila seseorang sudah melakukan sesuatu kekhilafan. Kita jadikan penyeselan itu sebagai pembelajaran besar untuk menatap masa depan yang lebih cerah. Bersabar dengan selalu mengambil hikmah dan kebaikan dari kejadian yang menimpa kita serta selalu bersiap siaga. Sebagaimana, Allah Azza wa Jalla berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga di perbatasan negeri kalian dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.”

(QS. Ali-Imran: 200)

Saudaraku,
Hilangkanlah rasa takut dan khawatir terhadap segala sesuatu masalah yang datang. Sebagaimana, Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan:
“Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

(QS. Fushilat: 30)

Saudaraku,
Apakah kita masih sering dibayangi masa lalu? Ataukah mungkin ada kesalahan-kesalahan pada masa lalu yang masih kita sesali? Masa lalu tak akan bisa kita genggam lagi. Kita tak bisa mundur ke belakang dan memperbaiki kesalahan yang ada pada saat itu. Waktu akan terus membawa kita melaju ke depan. Kita akan terus ditarik ke depan untuk melanjutkan perjalanan kehidupan...

Saudaraku,
Ada proses pendewasaan di balik setiap penyesalan. Diri kita yang hari ini berbeda dari diri kita yang dulu karena pengalaman dan penyesalan yang mengubah kita. Bila kita bisa mencoba sisi baik dari setiap kejadian yang ada, kita akan tumbuh lebih dewasa dari waktu ke waktu. Masalah hadir untuk menjadikan kita semakin banyak belajar memetik dan memaknai hikmah kehidupan dengan cara yang lebih bijak...

Saudaraku,
Dalam Al-Quran, disebutkan beberapa bentuk penyesalan manusia. Kali ini akan kita simak bentuk sesal dengan lafal “layta” (لَيْتَ). Dalam bahasa Arab, ungkapan “layta” menunjukkan angan-angan yang mustahil tercapai...

Andaikan kami taat kepada Allah dan Rasul-Nya,

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata, alangkah baiknya andaikan kami taat kepada Allah dan taat pula kepada Rasul.”

(QS. Al-Ahzab: 66)

Saudaraku,
Penyesalan pada hari akhir tidak mampu membuat waktu berjalan mundur. Yang sudah terlambat, marilah berubah, sebelum penyesalan tidak lagi berguna,

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : أخذ رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم بمنكبي فقال : كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل ] وكان ابن عمر رضي الله تعالى عنهما يقول : إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء وخذ من صحتك لمرضك ومن حياتك لموتك رواه البخاري

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma; beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundakku seraya bersabda, “Jadilah - di dunia ini - layaknya orang asing atau pengembara.”
Lalu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Jika engkau berada pada waktu sore maka jangan menunggu hingga pagi, dan jika engkau berada pada waktu pagi maka jangan menunggu hingga sore. Manfaatkan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu. Manfaatkan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.”

(HR. Al-Bukhari)

Saudaraku,
Dalam terminologi agama Islam, upaya untuk membersihkan diri dari dosa-dosa, dinamakan taubat. Pada intinya taubat mengandung makna meninggalkan dosa-dosa, baik kecil ( al-Shaghair) apalagi besar ( al-kabair) disertai penyesalan yang mendalam. Secara sufistik, taubat dipandang sebagai pangkal tolak atau tangga pertama dalam perjalanan menuju Allah Azza wa Jalla ( al-tawbah ashl kulli maqam). Tanpa taubat, manusia tidak bisa mendapatkan akses menuju ke jalan atau orbit Allah Azza wa Jalla...

Saudaraku,
Bagi Imam Ghazali, taubat yang baik adalah taubat yang memenuhi tiga kriteria. Pertama, meninggalkan dosa-dosa ( al-iqla' an al-dzunub). Kedua, berjanji tidak mengulangi ( al-azm an la ya'uda). Ketiga, menyesali diri atas dosa-dosa yang diperbuat dan atas hilangnya kesempatan dan peluang baik secara sia-sia ( al-nadam`ala ma fata). Kriteria yang ketiga di atas, yaitu penyesalan, dipandang Imam Ghazali sebagai kunci sukses taubat. Hal ini, karena tanpa penyesalan yang mendalam, sukar dibayangkan seseorang akan benar-benar bertaubat. Itu sebabnya, Nabi  Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memandang bahwa penyesalan itu identik dengan taubat itu sendiri, sebagaimana sabda beliau, ''al-Nadamu taubatun, penyesalan adalah taubat itu sendiri.''

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menyesali setiap kekhilafan yang pernah kita lakukan untuk membuka pintu taubat dan meraih ridha-Nya...
Aamiin Ya Rabb.

Wallahua'lam bishawab

0 komentar:

Posting Komentar